-->

Ulya Khaira Hikmah Pasca Bencana

Minggu, 7 Desember matahari mulai tergelincir ke arah barat. Sela-sela percakapan ringan, Rizky Ramadhan menanyakan alamat pedagang daun seledri. Sedikit aneh mendengar pertanyaan mak-mak keluar dari mulut yang tidak pernah melakukan aktivitas masak.

Ulya Khaira Hikmah Pasca Bencana


Dengan raut wajahnya yang tengah linglung remaja ringan tulang itu menambah, “ Hari ini aku mau pergi ke Sawang. Salah seorang teman di sana meminta tolong untuk dibelikan seledri dan toge.” Seketika itu memoriku merecovery masa muda. Masak bersama teman-teman dan makan seadanya.

“Ayo kita pergi ke pasar untuk belanja dan barengan melihat wilayah pedalaman,” pungkasku setelah istri memberikan adiknya alamat untuk belanja alat-alat masak. Tiba di perempatan Jalan Elak kami juga membelikan tiga bungkus Sate Matang untuk mereka disana.

Kamipun melanjutkan perjalanan setelah selesai berbelanja. Belum jauh meninggalkan turunan bukit, mataku mulai melongo melihat rumah-rumah warga. Genangan musibah banjir itu membekas di dinding beberapa rumah yang hampir menyentuh atap. Sebagian rumah-rumah hancur. Balai-balai pengajian roboh. Di perjalanan itu aku menyaksikan ibu-ibu tengah mencuci pakaian dengan air keruh. Kendati hati tak karuan sesekali seperti terhibur tatkala melihat anak-anak menikmati keadaan.

Sawang, salah satu kecamatan pedalaman di Aceh Utara yang terkena dampak banjir yang sangat parah. Motor yang kami gunakan beberapa kali mogok akibat jalan rusak dan lumpur yang berlapiskan lubang. Menurut pemberitaan warga salah satu kampung sebelah telah hilang ditelan bencana.

Kendati jalan tidak begitu mendukung mobil muatan kelapa sawit masih melintas. Seolah disana sedang baik-baik saja. Padahal sebagian rumah warga dan infrastruktur lainnya tengah dalam keadaan berlumpur akibat ditenggelamkan bencana banjir bandang Aceh 2025.

Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya kami tiba di Blang Reuling. Tepatnya di persimpangan depan salah satu rumah yang kami tuju. Sembari Dekky menyerahkan bawaan sesekali aku menguping pembicaraan mereka perihal kuliahnya di Politeknik, Lhokseumawe.

Korban dampak bencana itu selalu berusaha menghindar dari usahaku mendokumentasikan perjalanan. Sesekali dia tertawa lepas seperti tidak pernah ada kejadian apapun sedang menimpanya. Di tengah-tengah menghadapi musibah gadis berusia 18 tahun itu tampak tegar dan tenang. Ketangguhannya membuat hatiku semakin penasaran dan berguman, “Siapa dia sebenarnya?!”

Masih di persimpangan. “Pat rumoh droen?” tanyaku sambil membuat rekamam video. Kulihat gadis itu sangat menikmati keberadaan kami. Mungkin ia membayangkan seledri dan toge pesannya datang. Sesaat kemudian dia menunjukkan rumah dampak musibah banjir yang ditempatinya.

Dibalik raut wajah gembira terus kugali informasi tentangnya. Ia menyedorkan handphone untuk memperlihat dokumentasi kartu keluarga. Ulya Khaira, kepala rumah tangga kelahiran Blang Reuling 2007. Ada yang teriris di hati ini tatkala melihat empat anggota kecil lainnya di kartu keluarga gadis periang itu. Mufazzal Zikri 15 tahun, Naila Safira (autis) 11 tahun, Karimuddin 7 tahun, Fatimah Zuhra 5 tahun.

Kudapati gadis santun nan pemalu itu hakikatnya sudah duluan mendapatkan cobaan sebelum banjir bandang. Diusianya yang masih senja ia mempunyai beban yang tidak dimiliki remaja lain yang seumuran dengannya. Ibunya meninggal dunia diusia Ulya sedang mengeyam pendidikan SMP. Sementara ayah pergi menyusul ibu mereka tatkala ia sedang menempuh pendidikan SMA. Belum lagi luka lama sembuh musibah banjir ini kembali menimpa keluarga yatim piatu tersebut.

Kini sedikit harta benda yang mereka punya hilang diterpa bencana. Motor Beat 2018 milik Khaira mati terendam banjir. Helm hayut terbawa arus. Sebagian rumah dan peralatan hancur. Beberapa dokumen berharga lainnya seperti KTP, Kartu Keluarga dan kartu KIP juga ikut ditelan bencana. Sementara pakaian yang tersisa sampai saat ini belum bisa dicuci karena keterbatasan air bersih. Saat ini Khaira dan adik-adik tidur di lantai beralaskan tikar seadanya. Tanpa ada penerangan milik negara.

Hikmah setelah bencana adalah keniscayaan. Banjir bandang Tuhan jadikan washilah sebagai perantara pertemuan kita dengan mereka. Tanpa melihat keadaan, keluarga yatim piatu itu harusnya mendapatkan perhatian dan uluran tangan siapa saja yang ingin menuju jalan keampunan. Tuhan terlalu amat bijaksana. Salah satu kejutan kecil ini Ia nampakkan pasca bencana. Syukur kepada Tuhan Maha Esa selalu menyanyangi hamba-hambanya meskipun berlumuran dosa.

Kukabari beberapa orang teman mengingat perjalanan itu begitu menyesakkan dada. Spontan teman-teman meminta rekeningku untuk dititipkan sedikit sumbangan untuk mereka. Kemudian kami mengambil inisiatif untuk melakukan aksi galang dana pribadi ke pribadi hingga akhir Desember 2025. Bahu-membahu atas dasar niat meringankan sedikit beban hidupnya.

Bagi para dermawan yang ingin melanjutkan donasi setelah tanggal tersebut dipersilakan. Mengingat wilayah Sawang dan sekitarnya listrik belum pulih. Pun demikian jaringan tidak stabil. Sementara kontak untuk menghubungi yang bersangkutan juga akan kami berikan setelah penggalanan dana ini selesai. Penggalangan dana ini telah memenuhi izin dari adinda Ulya Khaira, wali dan pihak perangkat desa yang akan disalurkan dan bentuk kebutuhan.

Alhamdulillah! Saat ini donasi sudah terkumpul Rp. 3.050.000 melalui rekening BSI 1112188148 a.n Fauzi. Adapun rincian donasi up to date dilaporkan di Group WhatsApp. Terbuka untuk teman-teman yang ingin bergabung. Bismillah! Kita ambil peran, kadar kemampuan masing-masing. Allahul musta’an…

Fauzi, Krueng Geukueh, Aceh Utara

loading...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ulya Khaira Hikmah Pasca Bencana"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel